KEBUDAYAAN
TRADISI DAN BAHASA DI DAERAH SINDUHARJO
JATIHARJO JATIPURA KARANGANYAR
Makalah
yang disusun sebagai tugas akhir mata kuliah Filsafat Ilmu
Dosen:
bp. Andi HarisP
Oleh:
Ayu
Sartiningsih A310110126
PENDIDIKAN
BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012
PEMBAHASAN
A. Letak
geografis
Sinduharjo merupakan desa yang terletak di kecamatan
Jatipuro, kabupaten Karanganyar. desa
sinduharjo ini merupakan daerah dataran tinggi yang terletak di kaki gunung
lawu. Desa ini merupakan desa yang berbatasan sebelah timur dengan desa
jatioso, sebelah selatan dengan desa jatipura, sebelah barat dengan desa
Jatisuko. Sebelah selatan dengan desa Jumapolo. Desa yang berjumlah penduduk
kurang lebih 472 penduduk, yang terdiri dari 212 laki-laki dan 260 perempuan.
Penduduk di desa ini mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, pedagang
atau berwirausaha dan berternak. Ada juga yang bermata pencaharian sebagai
wiraswasta, mereka merantau ke berbagai daerah luar jawa.
Desa
ini merupaka desa yang masih menggunakan paham religi yaitu paham yang masih
menganggap mitos itu ada. Kebudayaan yang berkembang di daerah ini pun masih
menggunakan paham religi seperti halnya dengan kebudayaan pada tata cara
pernikahan. Budaya ini
masih menyimpan sejuta keindahan dan keagungan yang tetap dipegang teguh oleh
masyarakatnya. Hal ini bisa dilihat dalam upacara pernikahan yang penuh makna
dan unik. Beragam tradisi dan tata cara pernikahan menjadi bagian dari adat
masing-masing wilayah. Berikut ini tata cara perkawinan yang ada di desa
Sinduharjo yang saya dapat dari hasil wawancara dari kepala kelurahan yang
bernama bapak Marto Kasdi. Beliau adalah penduduk asli desa ini.
B. Tata
cara perkawinan di desa Sinduharjo, Jatiharjo, Jatipuro, Karanganyar
Seperti halnya tata cara adat atau budaya perkawinan
daerah lainya, desa ini juga menggunakan adat budaya masyarakat solo. Budaya
ini tidak terlepas dari system kepercayaan akan benda-benda yang memiliki
khaziat atau memiliki makna. Berikut tata cara perkawinan daerah Sinduharjo,
Jatiharjo, Jatipuro, Karanganyar.
1. Nglamar.
Utusan dari orangtua calon mempelai pria datang melamar pada hari yang telah ditetapkan. Biasanya sekaligus menentukan waktu hari pernikahan dan kapan dilakukan rangkaian upacara pernikahan.
Utusan dari orangtua calon mempelai pria datang melamar pada hari yang telah ditetapkan. Biasanya sekaligus menentukan waktu hari pernikahan dan kapan dilakukan rangkaian upacara pernikahan.
2. Srah-srahan
Setelah melalui tahapan pembicaraan,
dilaksanakanlah peneguhan pembicaraan yang disaksikan pihak ketiga, seperti
kerabat, tetangga, atau sesepuh. Srah-srahan Penyerahan seperangkat
perlengkapan sarana untuk melancarkan pelaksanaan acara hingga acara selesai
dengan barang-barang yang masing-masing mempunyai arti dan makna mendalam di
luar dari materinya sendiri, yaitu berupa cincin, seperangkat busana wanita,
perhiasan, makanan tradisional, buah-buahan, daun sirih, dan uang.
3. Peningsetan
Lambang kuatnya ikatan pembicaraan untuk mewujudkan dua kesatuan ditandai dengan tukar cincin oleh kedua calon mempelai.
Lambang kuatnya ikatan pembicaraan untuk mewujudkan dua kesatuan ditandai dengan tukar cincin oleh kedua calon mempelai.
4. Asok Tukon
Penyerahan dana berupa sejumlah uang
untuk membantu meringankan keluarga pengantin wanita.
5. Paseksen
Yaitu proses permohonan doa restu dan yang menjadi saksi acara ini adalah mereka yang hadir. Selain itu, juga ada pihak yang ditunjuk menjadi saksi secara khusus yang mendapat ucapan terima kasih yang dinamakan Tembaga Miring (berupa uang dari pihak calon besan).
Yaitu proses permohonan doa restu dan yang menjadi saksi acara ini adalah mereka yang hadir. Selain itu, juga ada pihak yang ditunjuk menjadi saksi secara khusus yang mendapat ucapan terima kasih yang dinamakan Tembaga Miring (berupa uang dari pihak calon besan).
6. GethokDina
Penentuan hari ijab kabul dan resepsi. Biasanya melibatkan seseorang yang ahli dalam memperhitungkan hari, tanggal, dan bulan yang baik atau kesepakatan dari kedua belah pihak saja.
Penentuan hari ijab kabul dan resepsi. Biasanya melibatkan seseorang yang ahli dalam memperhitungkan hari, tanggal, dan bulan yang baik atau kesepakatan dari kedua belah pihak saja.
7. Sedhahan
Mencakup pembuatan hingga pembagian surat undangan.
Mencakup pembuatan hingga pembagian surat undangan.
8. Kumbakarnan
Pertemuan untuk membentuk panitia hajatan dengan mengundang sanak saudara, keluarga, tetangga, dan kenalan. Termasuk membicarakan rincian program kerja untuk panitia dan para pelaksana.
Pertemuan untuk membentuk panitia hajatan dengan mengundang sanak saudara, keluarga, tetangga, dan kenalan. Termasuk membicarakan rincian program kerja untuk panitia dan para pelaksana.
9. Jenggolan
atau Jonggolan
Calon mempelai melapor ke KUA. Tata
cara ini sering disebut tandhakan atau tandhan, artinya
memberitahukan dan melaporkan pada pihak kantor pencatatan sipil bahwa akan ada
hajatan pernikahan yang dilanjutkan dengan pembekalan pernikahan.
10. Pasang Tratag
dan Tarub
Merupakan tanda resmi bahwa akan ada
hajatan mantu pada masyarakat. Tarub berarti hiasan dari janur kuning
atau daun kelapa muda yang disuwir-suwir (disobek-sobek) dan dipasang di sisi tratag
serta ditempelkan pada pintu gerbang tempat resepsi agar terlihat meriah. Bila
ingin dilengkapi, boleh dilanjutkan dengan uba rambe selamatan dengan
sajian makanan nasi uduk, nasi asahan, nasi golong, kolak ketan, dan apem.
11. Kembar Mayang
Sering disebut Sekar Kalpataru
Dewandaru, lambang kebahagiaan dan keselamatan. Benda ini biasa menghiasi
panti/ asasana wiwara yang digunakan dalam acara panebusing kembar
mayang dan upacara panggih. Bila acara sudah selesai, kembar mayang
akan dibuang di perempatan jalan, sungai, atau laut agar kedua mempelai selalu
ingat asal muasalnya.
12. Pasang Tuwuhan (Pasren)
Tuwuhan atau tumbuh-tumbuhan yang
melambangkan isi alam semesta dan memiliki makna tersendiri dalam budaya Jawa
dipasang di pintu masuk tempat duduk pengantin atau tempat pernikahan.
13. Siraman
Upacara Siraman mengandung arti memandikan calon pengantin yang disertai dengan niat membersihkan diri agar menjadi bersih dan suci lahir dan batin. Tahapan-tahapannya antara lain; calon mempelai mohon doa restu kedua orangtuanya, lalu mereka (calon mempelai pria dan wanita) duduk di tikar pandan, kemudian disiram oleh pinisepuh, orangtua, dan orang lain yang ditunjuk. Terakhir, calon mempelai disiram air kendi oleh bapak ibunya sambil berkata "Niat Ingsun ora mecah kendi nanging mecah pamore anakku wadon" dan kendi kosongnya dipecahkan ke lantai.
Upacara Siraman mengandung arti memandikan calon pengantin yang disertai dengan niat membersihkan diri agar menjadi bersih dan suci lahir dan batin. Tahapan-tahapannya antara lain; calon mempelai mohon doa restu kedua orangtuanya, lalu mereka (calon mempelai pria dan wanita) duduk di tikar pandan, kemudian disiram oleh pinisepuh, orangtua, dan orang lain yang ditunjuk. Terakhir, calon mempelai disiram air kendi oleh bapak ibunya sambil berkata "Niat Ingsun ora mecah kendi nanging mecah pamore anakku wadon" dan kendi kosongnya dipecahkan ke lantai.
14. Adol
Dhawet (Jual dawet)
Usai siraman, dilakukan acara jual
dawet. Penjualnya adalah ibu calon pengantin wanita yang dipayungi oleh ayah
calon pengantin wanita. Pembelinya yaitu para tamu yang hadir, yang menggunakan
pecahan genting sebagai uang.
15. Paes
Upacara menghilangkan rambut halus yang tumbuh di sekitar dahi agar tampak bersih dan wajahnya bercahaya, kemudian merias wajah calon pengantin. Paes sendiri menyimbolkan harapan kedudukan yang luhur diapit lambing bapak ibu dan keturunan.
Upacara menghilangkan rambut halus yang tumbuh di sekitar dahi agar tampak bersih dan wajahnya bercahaya, kemudian merias wajah calon pengantin. Paes sendiri menyimbolkan harapan kedudukan yang luhur diapit lambing bapak ibu dan keturunan.
16. Midodareni
Upacara Midodaren berarti menjadikan sang pengantin perempuan secantik Dewi Widodari. Orangtua pengantin perempuan akan memberinya makan untuk terakhir kalinya, karena mulai besok ia akan menjadi tanggung jawab sang suami.
Upacara Midodaren berarti menjadikan sang pengantin perempuan secantik Dewi Widodari. Orangtua pengantin perempuan akan memberinya makan untuk terakhir kalinya, karena mulai besok ia akan menjadi tanggung jawab sang suami.
17. Selametan
Berdoa bersama untuk memohon berkah keselamatan menyongsong pelaksanaan ijab kabul dan akad nikah.
Berdoa bersama untuk memohon berkah keselamatan menyongsong pelaksanaan ijab kabul dan akad nikah.
18. Nyantri
atau Nyatrik
Upacara penyerahan dan penerimaan
dengan ditandai datangnya calon pengantin pria berserta pengiringnya. Dalam
acara ini calon pengantin pria mohon diijabkan. Atau kalau acara ijab diadakan
besok, kesempatan ini dimanfaatkan sebagai pertemuan perkenalan dengan sanak
saudara terdekat di tempat mempelai pria. Bila ada kakak perempuan yang
dilangkahi, acara penting lainnya yaitu pemberian restu dan hadiah yang disesuaikan
kemampuan mempelai dalam Plangkahan.
19. Upacara
Ijab
Sebagai prosesi pertama pada puncak
acara ini adalah pelaksanaan ijab yang melibatkan pihak penghulu dari KUA.
Setelah acara ini berjalan dengan lancar dan dianggap sah, maka kedua mempelai
resmi menjadi suami istri.
20. Upacara
Panggih
Setelah upacara ijab selesai,
kemudian dilanjutkan dengan upacara panggih yang meliputi:
a. Liron kembar mayang atau saling menukar kembang mayang
dengan makna dan tujuan bersatunya cipta, rasa, dan karsa demi kebahagiaan dan
keselamatan.
b. Gantal atau lempar sirih dengan harapan
semoga semua godaan hilang terkena lemparan itu.
c. Ngidak endhog atau pengantin pria menginjak telur
ayam kemudian dibersihkan atau dicuci kakinya oleh pengantin wanita sebagai
simbol seksual kedua pengantin sudah pecah pamornya. Minum air degan (air buah
kelapa) yang menjadi lambang air suci, air hidup, air mani dan dilanjutkan
dengan di-kepyok bunga warna-warni dengan harapan keluarga mereka dapat
berkembang segala-segalanya dan bahagia lahir batin.
d. Masuk ke pasangan bermakna pengantin menjadi
pasangan hidup siap berkarya melaksanakan kewajiban.
e. Sindur yaitu menyampirkan kain (sindur) ke
pundak pengantin dan menuntun pasangan pengantin ke kursi pelaminan dengan
harapan keduanya pantang menyerah dan siap menghadapi tantangan hidup.
21. Kacar-kucur dijalankan dengan cara pengantin
pria mengucurkan penghasilan kepada pengantin perempuan berupa uang receh
beserta kelengkapannya. Simbol bahwa kaum pria bertanggung jawab memberi nafkah
kepada keluarga.
22. Dulangan atau kedua pengantin saling
menyuapi. Mengandung kiasan laku perpaduan kasih pasangan laki-laki dan
perempuan (simbol seksual). Ada juga yang memaknai lain, yaitu tutur adilinuwih
(seribu nasihat yang adiluhung) dilambangkan dengan sembilan tumpeng.
23. Upacara
Babak Kawah
Upacara ini khusus untuk keluarga
yang baru pertama kali hajatan mantu putri sulung. Ditandai dengan membagi
harta benda seperti uang receh, beras kuning, umbi-umbian dan lain-lain.
24. Tumplek
Punjen
Numplak artinya menumpahkan, punjen
artinya berbeda beban di atas bahu. Makna dari Tumplek Punjen yaitu lepas sudah
semua darma orangtua kepada anak. Tata cara ini dilaksanakan bagi orang yang
tidak akan bermenantu lagi atau semua anaknya sudah menikah.
25. Sungkeman
sebagai ungkapan bakti kepada orang tua serta mohon doa restu.
sebagai ungkapan bakti kepada orang tua serta mohon doa restu.
26. Kirab
adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan saat pengantin berdua meninggalkan tempat duduknya untuk berganti busana.
adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan saat pengantin berdua meninggalkan tempat duduknya untuk berganti busana.
Demikian tata urutan pernikahan yang terjadi di desa
Sinduharjo, Jatiharjo, Jatipuro, Karanganyar. tata cara pernikahan tersebut
masih menggunakan paham religi. Benda-benda atau peralatan yang ada di dalamnya
mengandung makna.
C.
Bahasa
yang digunakan di Desa Sinduharjo, Jatiharjo, Jatipuro, Karanganyar.
System bahasa yang digunakan dalam
percakapan sehari-hari masyarakat Sinduharjo adalah bahasa jawa yaitu bahasa
yang berkembang di Jawa tengah. Walaupun sama-sama bahasa yang digunakan adalah
bahasa jawa, namun, setiap daerah Jawa Tengah memiliki istilah-istilah sendiri
dan berbeda dengan yang lainnya. Misalnya pada anggota tubuh, binatang,
tumbuhan. Mereka menyebutkan dengan istilah yang berbeda dengan desa lain
walaupun bentuk dan maksudnya sama.
a.
Anggota Tubuh
|
No
|
Nama
Anggota Tubuh
|
|
|
Bahasa
Jawa
|
Bahasa
Indonesia
|
|
|
|
Rambut
|
Rambut
|
|
|
Kuping
|
Kuping
|
|
|
Mripat
|
Mata
|
|
|
Irung
|
Hidung
|
|
|
Lambe
|
Bibir
|
|
|
Cangkem
|
Mulut
|
|
|
Untu
|
Gigi
|
|
|
Gulu
|
Leher
|
|
|
Pupu
|
Paha
|
|
|
Rai
|
Wajah
|
|
|
Bathuk
|
Jidat
|
|
|
Weteng
|
Perut
|
|
|
Janggut
|
Dagu
|
|
|
Driji
|
Jari
|
|
|
Dengkul
|
Lutut
|
|
|
Sikil
|
Kaki
|
b.
Binatang
|
No
|
Nama
Binatang
|
|
|
Bahasa
Jawa
|
Bahasa
Indonesia
|
|
|
|
Wedus
|
Kambing
|
|
|
Pithek
|
Ayam
|
|
|
Sapi
|
Sapi
|
|
|
kirek
|
Anjing
|
|
|
Ulo
|
Ular
|
|
|
Uler
|
Ulat
|
|
|
jingklong
|
nyamuk
|
|
|
Kucing
|
Kucing
|
|
|
Walang
|
Belalang
|
|
|
Semut
|
Semut
|
|
|
sowang
|
angsa
|
|
|
Kebo
|
Kerbau
|
|
|
Lowo
|
Kelelawar
|
|
|
Iwak
|
Ikan
|
|
|
kelinci
|
Kelinci
|
|
|
Tekek
|
Tokek
|
|
|
Bajing
|
Tupai
|
c.
Tumbuhan
|
No
|
Nama
Tumbuhan
|
|
|
Bahasa
Jawa
|
Bahasa
Indonesia
|
|
|
1.
|
Kates
|
Pepaya
|
|
2.
|
Sepe
|
Singkong
|
|
3.
|
Telo
|
Ketela
|
|
4.
|
Pelem
|
Mangga
|
|
5.
|
Ace
|
Rambutan
|
|
6.
|
Bayem
|
Bayam
|
|
7.
|
Lombok
|
Cabai
|
|
8.
|
Mulwo
|
Sirsak
|
|
9.
|
Gedang
|
Pisang
|
|
10.
|
Laos
|
Lengkuas
|
|
11.
|
Kunir
|
Kunyit
|
|
12.
|
Kambil
|
Kelapa
|
|
13.
|
Jipang
|
Labu
Siam
|
|
14.
|
Duren
|
Durian
|
|
15.
|
Pete
|
Petai
|
|
16.
|
rebung
|
rebung
|
|
17.
|
Dondong
|
Kedondong
|
d.
Makanan Khas
|
No
|
Nama
Makanan Khas
|
|
|
Bahasa
Jawa
|
Bahasa
Indonesia
|
|
|
1.
|
Sega
tiwul
|
Nasi
tiwul
|
|
2.
|
kemplang
|
kemplang
|
|
3.
|
Rondo
royal
|
Tape
goreng
|
|
4.
|
kleman
|
gudang
|
|
5.
|
grontol
|
Jagung
rebus
|
|
6.
|
klenyem
|
klenyem
|
|
7.
|
lotis
|
Rujak
petis
|
|
8.
|
bakwan
|
bakwan
|
|
9.
|
Mie
Ayam
|
Mie
ayam
|
|
10.
|
mendoan
|
Tempe
goreng
|
|
11.
|
Keripik
sepe
|
Keripik
Singkong
|
|
12.
|
Keripik
Telo
|
Keripik
Ketela
|
|
13.
|
jadah
|
ulen
|
|
14.
|
Sayur
bobor
|
Sayur
lodeh
|
|
15.
|
Endok
Asin
|
Telur
Asin
|
|
16.
|
Garang
Asem
|
Garang
asem
|
|
17.
|
Gethuk
Telo
|
Gethuk
Ketela
|
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar